Mar
10
2015

Aku Berharap Mati Dilaut Bersama mu, Namun …

Udah lama gak pernah nulis disini, terakhir nulis bulan November 2014.
Alhamdulillah kemarin senin puasa sunah, jadinya pas jam istirahat kantor gak ikutan teman-teman makan siang keluar, hanya duduk manis dibangku sambil memandang keluar jendela, memperhatikan jalanan sudirman yang selalu macet-cet dari gedung mayapada lantai 5 … 🙂 ( gaya yach, hehehe 🙂 ).
Tiba-tiba WA di Oppo cantikku berbunyi, ada pesan masuk.  Pas dibuka broadcast dari Pak Insan, isinya bagus berasa dijewer banget.  Jadi pengen sharing disini ceritanya…

========================================================================

Didalam sebuah kelas ada seorang guru yang sedang bercerita kepada murid-muridnya:

Ada sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan dilaut dan akan segera tenggelam.  Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri.  Sampai disana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa.  Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu.  Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

Sebagian besar murid-murid itu menjawab,
“Aku benci kamu !”
” Kamu tau aku buta !!”
“Kamu egois !”
“Nggak tau malu !”
(jangankan murid-murid, aku pribadi ajah kalo ditanya, pasti akan menjawab “DASAR SUAMI GAK TAU DIRI!!” )

Tapi guru itu kemudian menyadari, dari sekian murid yang ada dikelas, ada seorang murid yang diam saja.
Guru itu meminta murid yang diam saja itu untuk menjawab.  Kata simurid, “Guru, saya yakin si istri berteriak, “Tolong jaga anak kita baik-baik””.

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”.  Murid itu menggeleng dan berkata “Belum, tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”
Lalu sang guru melanjutkan ceritanya:

Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.

Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak-anaknya menemukan buku harian ayahnya.  Disanalah anak-anaknya menemukan kenyataan bahwa, saat orang tuanya naik kapal pesiar, mereka sudah mengetahui bahwa si ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal.  Karena itulah disaat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.  Ayahnya menulis dibuku harian itu, “Betapa aku berharap mati dibawah laut bersama denganmu.  Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya dibawah sana.”

Cerita itu selesai, dan seluruh kelas pun terdiam hening.  Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan didunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan.

Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya itu yang kadang sulit dimengerti.  Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya diluarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

  • Mereka yang sering memberi untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.
  • Mereka bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.
  • Mereka yang minta maaf lebih dahulu setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.
  • Mereka yang mengulurkan tangan untuk  menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.
  • Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamui ada didalam hatinya…

Mari kita mulai belajar melihat sesuatu atau menilai seseorang itu tidak hanya dari bungkusnya saja,  karena hidup akan sangat melelahkan dan sia-sia saja, jika kita hanya sibuk ngurusin BUNGKUS-nya ajah tapi mengabaikan ISI-nya.  Tidak selamanya yang buruk menurut kita, buruk juga menurut orang lain …

 

Jakarta 10 Maret 2015

Salam senyum … ^_*

Lila

 

About the Author:

Seorang ibu rumah tangga yang selalu Optimis dan mempunyai IMPIAN yang sangat besar untuk kebahagiaan keluarganya

Leave a comment